Koperasi Kerajinan Tangan Akan Didirikan di Perbatasan Badau, Warga Sambut Gembira

Kategori Berita

Koperasi Kerajinan Tangan Akan Didirikan di Perbatasan Badau, Warga Sambut Gembira

Penancapan tiang pertama pembangunan gudang koperasi kerajinan tangan di perbatasan RI-Malaysia Kecamatan Badau.

KAPUAS HULU, KapuasRayaNews.com
- Warga masyarakat perbatasan Indonesia - Malaysia Kecamatan Badau antusias menghadiri acara penancapan tiang pertama pembangunan gudang koperasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM), di Jalan Lintas Utara Dusun Badau, Desa Badau, Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sabtu (30/03/2024) pagi.


Acara tersebut berlangsung meriah, dihadiri puluhan warga masyarakat setempat dan sejumlah tamu undangan,


Antusias warga masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut menandakan bahwa pembangunan gudang untuk koperasi UKM itu mendapat dukungan positif dari warga masyarakat setempat.


Adapun yang hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya Staf Kepala Urusan (Kaur) Pembangunan Kecamatan Badau, Edo, Kades Janting, Yohanes Entalang, Pj. Danramil 1206-04/Badau, Serma Aspan beserta Babinsa, Pratu Diki Wahyudi dan personil Satgas Pamtas Yonarmed 10/Bradjamusti, Serda Erik, serta Pratu Yuda.


Hadir pula Patih Sebindang, Untam, Staf Kecamatan Empanang, Kancu, Kepala Dusun Janting, Jampi, Ketua RT 01 Janting, Tumpa, tokoh adat, tokoh agama dan tokoh pemuda dari Desa Janting, Badau dan Sebindang.


Pada kesempatan itu, pemilik gudang Koperasi UKM, Yupianus Ramin, mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada warga masyarakat yang hadir dan mendukung dibangunnya gudang untuk Koperasi UKM tersebut.


Selain itu, ia juga mengucapkan terimakasih kepada unsur Muspika Badau yang telah hadir dalam penancapan tiang pertama gudang untuk koperasi UKM yang bergerak di bidang kerajinan tangan rotan itu.


"Saya sebagai warga asli di sini sangat bangga dan berterimakasih karena mendapat kesempatan untuk memajukan usaha kerajinan tangan jenis rotan ini. Saya rasa tidak ada salahnya saya mendirikan koperasi UKM ini, untuk menyerap tenaga kerja terutama masyarakat setempat," ujar Ramin.


Ia menjelaskan bahwa dirinya akan patuh pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam menjalankan usaha bisnis tersebut.


"Selaku warga negara Indonesia yang tinggal di wilayah perbatasan RI-Malaysia, saya sangat menjunjung tinggi adat istiadat dan hukum negara, apalagi hari ini semua tokoh adat dan para tetua berkumpul di sini. Kami tidak mau melanggar adat. Kami berharap para aparat terkait juga tidak melanggar adat istiadat yang telah kami terapkan di sini. Kalau ada yang melanggar maka akan kami kenakan hukum adat. Misalnya kalau tidak permisi dalam mengambil foto atau yang lainnya," tegasnya.


Ia juga berharap ke depannya, usaha yang akan ia bangun tersebut dapat berjalan lancar.


"Semoga usaha ini ke depannya berjalan lancar, dengan harapan dapat menopang ekonomi masyarakat setempat," harapnya.


Sementara itu, Temenggung Badau, Ubang, menyatakan bahwa selaku pemimpin adat di Kecamatan Badau, dirinya sangat bersyukur dan berterimakasih dengan adanya usaha koperasi kerajinan tangan yang berbahan baku utama rotan tersebut.


"Ini tentunya akan membantu perekonomian masyarakat di perbatasan. Oleh sebab itu saya mendukung sepenuhnya pembangunan gudang ini," terangnya.


Menurutnya, dengan adanya usaha tersebut nantinya, ke depannya tidak ada lagi masyarakat perbatasan yang mengeluh sulitnya mendapatkan pekerjaan karena sudah ada lapangan pekerjaan.


Selaku orang yang mengerti tentang adat, ia pun berpesan dan memohon kepada yang hadir, agar menjaga dan menjunjung tinggi adat istiadat.


"Khusus bagi aparat yang bertugas di sini kalau masih belum tahu tentang adat istiadat di wilayah kami, jangan malu-malu untuk bertanya. Kami siap memberikan pengetahuan tentang adat," ungkapnya.


Sebagaimana diketahui, gudang koperasi kerajinan tangan tersebut dibangun di atas tanah berukuran 15×25 meter persegi.


Antusias warga masyarakat perbatasan RI-Malaysia Kecamatan Badau.

Adapun kegiatan tersebut, diawali dengan ritual adat setempat yakni pemotongan hewan ternak di lubang yang akan ditancapkan tiang pertama. (***)

uncak